TAHAP PLAN LESSON STUDY
Tahap plan biasa dikenal dengan tahap perencanaan. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk merancang pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa agar pembelajaran berpusat pada siswa, siswa berpartisipasi aktif dan berpikir dalam proses pembelajaran, terjadi interaksi yang positif antara siswa dalam kelompok dan terjadi interaksi yang positif antar kelompok( Kiat-kiat Praktik Lesson study, hal.3).
Selain itu, tujuan kegiatan pada tahap perencanaan berguna untuk merencanakan secara bersama-sama kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu semester, diantaranya adalah masalah yang barkaitan dengan guru model, berkaitan dengan jumlah pertemuan yang akan dilaksankan, berkaitan dengan sekolah tempat open lesson dilaksankan, serta berkaitan dengan proses menentukan kelompok mata pelajaran, menentukan moderator, dan menentukan notulen.
Dalam rangka menentukan kelompok, terdapat dua faktor yang yang harus diperhatikan agar kegiatan dalam kelompok bisa berlangsung sesuai dengan harapan yaitu pertama adalah faktor jenjang sekolah, dan kedua adalah faktor matapelajaran.
- Faktor Jenjang Sekolah.
Perbedaan yang terdapat dalam pembagian kelompok pada faktor jenjang sekolah diantaranya adalah: (1) Jenjang sekolah dasar(SD)/ madrasah ibtidaiyah(MI); (2) Jenjang sekolah menengah pertama (SMP)/ madrasah stanawiyah(MTs); (3)Jenjang sekolak menengah atas(SMA)/ madrasah aliyah(MA) dan sekolah menengah kejuruan(SMK).
Pelaksanaan pembelajaran di SD dilaksanakan oleh guru kelas kecuali pelajaran agama, bahasa inggris dan olahraga, olehkarena itu cara menentukan kelompoknya adalah berdasarkan kelas mengajarnya.
Pelaksanaan pembelajaran di jenjang SMP dilaksanakan oleh guru matapelajaran. Walaupun demikian terdapat perbedaan karakteristik matapelajaran,diantaranya adalah mata pelajaran IPA dan matapelajaran IPS mempunyai karakteristik berbeda dengan matapelajaran yang lain.
Perbedaannya adalah bahwa untuk tingkat SMP/MTs Pelajaran IPA merupakan gabungan dari tiga pelajaran yaitu pelajaran fisika, biologi, dan kimia. Sedangkan untuk pelajaran IPS didalamnya tergabung tiga matapelajaran yaitu pelajaran geografi, ekonomi, dan sosiologi. Ditinjau dari latar belakang guru yang mengajar juga terdapat perbedaan yaitu guru IPA di tingkat SMP/MTs sebagian yang berlatar belakang biologi, ada yang berlatar belakang fisika, dan hampir tidak ada yang berlatar belakang kimia. Sedangkan Mata pelajaran IPS sebagian yang berlatar belakang geografi, ada yang berlatar belakang, sosiologi, dan ada pula yang berlatar belakang pendidikan ekonomi.
Kita memahami bahwa Pelajaran IPA di tingkat SMP untuk semester ganjil materi kelas 7 masuk pada pelajaran fisika dan kimia, materi kelas 8 masuk materi biologi dan kelas 9 masuk materi fisika. Demikian pula dengan matapelajaran IPS.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka terdapat kendala pada pembagian kelompok untuk matapelajaran IPA dan IPS. Ahmad Fadloli dalam makalah dengan judul “MGMP based lesson study in Karawang” menjelaskan bahwa pada awal kegiatan sebagian besar guru tidak mau masuk kelompok yang tidak sesuai dengan latar belakan pendidikannya yaitu guru yang berlatar belakang biologi masuk kekelompok biologi meraka tidak mau masuk ke kelompok fisika/kimia, demikian pula guru yang berlatar belakang lain.
Apabila kondisi tersebut terjadi maka akan terdapat penumpukan pada kelompok tertentu sesuai dengan latar belakang pendidikan peserta kegiatan. Lantas sebaiknya bagaimana yang harus dilakukan agar tidak terjadi penumpukan peserta pada kelompok tertentu?
Bagi guru IPA atau IPS sebaiknya memasuki kelompok yang berbeda dengan latar belang pendidikannya, misalnya guru dengan latarbelakang geografi sebaiknya memasuki kelompok sosiologi, demikian pula dengan yang lainnya. Dengan kegiatan seperti itu tentunya akan dapat meningkatkan kompetensi pada pelajaran yang bukan merupakan latar belakangnya dalam satu rumpun.
Oleh karena dalam melaksanakan tugas sebagai guru IPA akan mengajarkan materi fisika, biologi, dan kimia demikian pula dalam melaksankan tugas sebagai guru IPS pasti akan mengajar materi yang terdiri dari geografi, sosiologi dan ekonomi dan tentunya ada yang berbeda dengan latar belakang pendidikan yang diperoleh dari bangku kuliah.
Selain pemilihan pembagian kelompok seperti diatas, juga dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan peserta yang menghadiri kegiatan.
Terdapat beberapa kesepakatan yang muncul dalam pembagian kelompok guru yang mengikuti kegiatan lesson study khususnya matapelajran IPA dan IPS diantaranya adalah:(1) Pembagian kelompok berdasarkan latar belakang jurusan guru yang bersangkutan; (2) Pembagian kelompok berdasarkan dengan kelas yang diampu oleh guru tersebut.
Inti dari pengelompokan adalah di harapkan terjadi sharing antar guru dalam kelompok tersebut dalam hal pengalaman mengajarkan materi tertentu berdasarkan materi yang akan di open lessonkan, juga masalah kedalaman materi dan konsep yang akan di sampaiakan sehingga tidak terjadi kesalahan.
- Faktor Matapelajaran.
Untuk pelajaran yang tidak merupakan gabungan dari bebrapa matapelajaran, pembagian kelompoknya di dasarkan pada jenjang mengajarnya yaitu kelompok guru yang mengajar di kelas tujuh, kelompok guru yang mengajar di kelas delapan, dan kelompok guru yang mengajar di kelas Sembilan.
Setelah pembagian kelompok. Langkah selanjutnya adalah Menentukan guru model sesuai dengan kesepakatan kelompok; Melihat jadwal pelajaran; Menentukan materi yang akan di sampaikan dengan cara melihat program tahunan dan program semester; Selanjutnya adalah mulai membuat Rencana Pembelajaran.(RPP).
Merancang RPP dalam kegiatan LS dilakukan dengan sharing pada guru- guru pada kelompok yang ada. Dengan menelaah SK, KD Intinya adalah : Materi essensial apa yang harus di kuasai oleh siswa?, Bagimana cara menyampaikan materi tersebut? Bagaimana posisi siswa dalam belajar? Media apa yang di gunakan? Alat evaluasinya bagaimana? Bagaimana Lembar kerja (LK) sehingga proses pembelajaran bisa optimal.
Secara umum tahap perencanaan dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan yaitu plan pertama dan plan kedua. Mengapa demikian?
Kita memahami bahwa perncanaan pembelajaran adalah komponen yang sangat penting untuk merancang pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan, siswa aktif, terjadi interaksi antar siswa dalam kelompok maupun antar kelompok. Dengan kata laian merancang agar pembelajaran berlangsung secara aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan.
Adapun perincian kegiatan plan satu dan plan dua adalah sebagai berikut:
Kegiatan pada tahap plan satu secara umum dibagi menjadi dua macam yaitu kegiatan yang dilakukan secara klasikal dan kegiatan yang dilakukan secara kelompok.
Sedangkan kegiatan yang dilakukan secara terinci adalah sebagai berikut:
- Menetukan jumlah pertemuan.
Kegiatan Plan 1 diawali dengan menetukan jumlah pertemuan yang akan dilaksankan selama satu semester yang dilaksankan secara klasikal.
Jumlah pertemuan yang ditentukan adalah pertemuan dalam pelaksanaan pada tahap do dan see.
Tahap do yang biasa dikenal dengan Open class/open lesson merupakan kegiatan membuka kelas pada saat pembelajaran berlangsung atau kegiatan membuka pembelajaran untuk diamati oleh para observer (guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, widyaiswara, pimpinan dinas pendidikan, maupun masyarakat umum). Kegiatan setelah kegiatan open class adalah kegiatan diskusi refleksi.
Kegiatan menentukan jumlah pertemuan dilaksanakan pada tahap pertama karena tahap ini akan sangat berpengaruh terhadap jumlah guru model yang akan disiapkan pada tahap berikutnya.
Kegiatan menetukan banyaknya Jumlah open class yang akan dilaksankan biasanya dilaksankan sesuai dengan kesepakatan. Tetapi berdasarkan pengalaman yang sudah pernah dilaksankan bahwa open class dalam satu semester secara umum adalah dilaksankan sebanyak tiga kali, atau lima kali,dan ada yang dilaksankan sebanyak delapan kali pertemuan.
- Menentukan kelompok peserta kegiatan.
Kegiatan selanjutnya adalah menentukan kelompok peserta. Kegiatan ini masih dilaksanakan secara klasikal. Terdapat beberapa alternative cara dalam menentukan kelompok diantaranya adalah (a) penetuan kelompok berdasarkan kelas. Penentuan kelompok ini bisa dilakukan pada semua jenjang sekolah.
Apabila Kegiatan dilaksanakan pada jenjang Sekolah Dasar (SD)/madrasah Ibtidaiyah(MI), para peserta kegiatan dikelompokan kedalam kelompok guru yang mengajar di kelas tiga, kelas empat, kelas lima, dan kelas enam; Apabila kegiatan dilaksanakan ditingkat sekolah menengah pertama (SMP)/madrasah tsanawiyah(MTs) terdapat kelompok guru yang mengajar di kelas tujuh, delapan, dan sembilan. Sedangkan untuk jenjang sekolah menengah atas(SMA)/ sekolah senengah kejuruan(SMK)/ madrasah aliyah(MA) terdapat kelompok guru yang mengajar di kelas sepuluh,sebelas,dan duabelas; Di perguruan tinggi dilaksankan sesuai dengan kesepakatan dari dosen-dosen yang ada; (b) menentukan kelompok berdasarkan matapelajaran. Kegiatan yang dilaksankan berdasarkan matapelajaran yang diampu oleh peserta, misalnya pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan mata pelajaran yang lain.
Tetapi untuk matapelajaran yang didalamnya terdiri dari bebrapa matapelajaran yang bergabung. Misalnya matapelajaran IPA didalamnya terdapat pelajaran biologi, fisika, dan kimia; matapelajaran IPS didalamnya terdapat pelajaran ekonomi, sosiologi dan geografi dan pelajaran lainnya yang mempunyai karakteristik yang hampir sama.
Untuk kategori matapelajaran tersebut, dalam pembentukan kelompok terutama dalam tahap perencanaan terdapat kelompok fisika, kelompok biologi, dan kelompok kimia. Matapelajaran IPS terdapat kelompok ekonomi, sosiologi, dan geografi.
Tetapi dalam menetukan guru dengan latar belakang matapelajaran apa yang harus masuk kedalam kelompok fisika atau yang lainnya bisa dilaksanakan berdasarkan kesepakatan. Mengapa demikian!
Kita ketahui bahwa di tingkat SMP/MTs mata pelajaran yang ada bukan pelajaran biologi, fisika, dan kimia, tetapi pelajarannya adalah IPA demikian juga bukan pelajaran ekonomi, sosiologi, atau georafi tetapi pelajaran IPS.
Dengan demikian maka, guru IPA tentu mempunyai latar belakang pendidikan berbeda-beda yaitu ada yang berlatar belakang fisika, biologi, atau kimia. Demikian pula dengan guru IPS ada yang berlatar belakang ekonomi, sosiologi atau geografi.
Dengan keadaan seperti itu, maka guru IPA dan guru IPS harus mengajar materi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan bahkan bukan satu pelajaran tetapi ada dua pelajaran yang harus disampaikan diluar latar belakang pendidikan yang didapat selama perkuliahan. .
Menyadari kondisi seperti itu, tentu kegiatan lesson study sangat penting dan memberikan manfaat yang besar dalam rangka meningkatkan kompetensi terutama dalam hal penguasaan materi terlebih pada matapelajaran yang didalamnya merupakan gabungan beberapa pelajaran.
Dengan demikian seyogyanya dalam memilih kelompok dalam kegiatan akan lebih baik jika masuk pada kelompok yang bukan latar belakang pendidikan yang didapatkan selama kuliah sehingga penguasaan materi menjadi lebih baik.
- Menetukan guru yang akan mengajar.
Kegiatan ini peserta sudah berada pada kelompok masing-masing sesuai dengan kesepakatan yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya.
Pada kegiatan Lesson study guru yang mengajar dinamakan sebagai guru model. Dapat dikatakan bahwa guru model adalah guru peserta yang mendapat kesempatan dan diberikan kepercayaan oleh kelompok untuk mengimplementasikan rencana yang dibuat bersama dalam pembelajaran di kelas.
Menjadi guru model tentu sangat berguna untuk meningkatkan keberanian pembelajaran yang dilaksanakan di observasi oleh pengamat dalam jumlah yang sangat banyak. Kegiatan seperti ini belum pernah dialami seorang guru sebelum menjadi guru model pada kegiatan lesson study.
Pada tahap ini, guru- guru peserta sudah berkelompok sesuai dengan kesepakatan. Kegiatan Selanjutnya guru-guru dalam kelompok tersebut menentukan guru model yang akan mengimplementasikan hasil rencana yang di buat secara kelompok kedalam kelas atau dengan kata lain akan mengajar dengan menggunakan rancangan yang dibuat secara kolaboratif.
Diharapkan Guru model pada kegiatan berasal dari sekolah yang berbeda-beda selama kegiatan berlangsung. Dengan pemilihan guru model yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda tersebut banyak manfaat yang didapatkan diantaranya adalah:(1) Kunjungan sekolah (2) Belajar dari sekolah lain(3) mengambil manfaat dari kunjungan dalam hal lingkungan, siswa, proses belajar mengajar, program sekolah, silaturahmi dengan guru yang lain, terjadi pemerataan antara negeri dan swasta. sehingga selain belajar dari proses pembelajaran, diharapkan terjadi pembelajaran dari sisi yang lainnya diantaranya adalah lingkungan sekolah yang berbeda-beda.
- Menentukan jadwal mengajar guru model
Tahap selanjutnya setelah menetukan jumlah open lesson dan menentukan guru model adalah dalam kelompok menetukan jadwal mengajar yang akan dilaksanakan.
Kegiatan ini sangat penting karena jadwal mengajar akan berpengaruh terhadap materi yang akan disampaikan. Jadwal mengajar bisa berupa tanggal dan bulan berpa open class akan dilaksankan. Dengan adanya tanggal dan bulan tersebut, maka akan menentuan dalam hal Materi yang akan disampaikan serta dirancang RPPnya bersama pada tahap selanjutnya.
- Menentukan materi yang akan disampaikan pada kegiatan open class.
Dengan berpedoman pada kalender pendidikan, program tahunan, dan program semester serta disesuaikan dengan jadwal pelajaran yang sudah berlangsung disekolah tempat guru model mengajar, setiap kelompok berdiskusi untuk menentukan materi yang akan disampaikan pada kegiatan open class. Setelah terjadi kesepakatan dari semua anggota dalam kelompok, maka ditetapkan mataeri yang disepakati untuk selanjutnya dibuat RPP.