Tugas Wali Kelas (Walas) sebagai Ujian Kepedulian bagi Guru
Oleh: Ahmad Fadloli
Quotes of the day: Pribadi seseorang menjadi bermakna jika karakter baiknya menjadi inspirasi bagi orang lain.Pakndol04082025
Gusndol.com_Wali kelas merupakan tugas tambahan bagi guru dan tugas wali kelas tersebut disetarakan dengan 2 Jam Pelajaran(2JP) (Permendikdasmen nomor 11 tahun 2025). Artinya jika seorang guru diberikan tugas tambahan menjadi wali kelas maka beban mengajar wajib guru tersebut menjadi berkurang 2 JP yaitu dari 24 JP perpekan menjadi 22 JP perpekan. Ekuivalensi 2 JP tersebut membuktikan bahwa tugas wali kelas bukan tugas yang ringan dan untuk dapat melaksanakannya seorang guru membutuhkan tambahan waktu, tenaga, dan pikiran.
Kenyataannya tidak selalu demikian, secara umum seorang guru yang mendapatkan tugas tambahan wali kelas jam mengajarnya tidak berkurang bahkan masih banyak jam mengajaranya melebihi jam wajib. Kondisi demikian terjadi dikarenakan jumlah guru ASN di sekolah tersebut masih kurang dan juga menyesuaikan dengan aturan pembayaran honor bagi guru non ASN.
Selain jam tidak berkurang, ternyata tugas walas juga tidak mendapatkan honor dari sekolah. Kondisi nyata tugas wali kelas seperti tersebut menjadi ujian tersendiri bagi guru yang dipercaya mendapatkan tugas tambahan sebagai wali kelas. Diantara sekian banyak ujian menjadi wali kelas adalah “ujian kepedulian”.
Ujian kepedulain walas dapat dinilai dari berbagai macam indicator sesuai dengan tugas pokok dan fungsi walas. Diantara kepedulian walas yang paling mudah dilihat adalah lingkungan fisik kelas. Lingkungan Fisik Ini meliputi tata letak teras kelas, ketersediaan sarana teras kelas, kerindangan teras dan taman kelas, tata letak ruang kelas, ketersediaan dan kondisi fasilitas (meja, kursi, papan tulis, dll.), pencahayaan, sirkulasi udara, kebersihan, dan kenyamanan ruangan. https://www.google.com/search?q=yang+dimaksud+kondisi+kelas&oq=yang+dimaksud+kondisi+kelas&gs_lcrp=EgZjaHJvbWUyBggAEEUYOTIHCAEQABjvBTIKCAIQABiABBiiBDIHCAMQABjvBTIKCAQQABiABBiiBNIBCTE3Mjk1ajBqN6gCALACAA&sourceid=chrome&ie=UT8
Sebagai Ilustrasi: Jika kita melihat kelas dari depan atau dari luar terlihat kondisi muka kelas tersebut rapi, bersih maka kita dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa wali kelas tersebut mempunyai kepedulian. Jika kondisi seperti itu bertahan dari hari ke hari berlanjut dari pekan ke pekan dan terus berlanjut dari pekan ke bulan maka dapat diambil Kesimpulan bahwa wali kelas tersebut mempunyai kepedulian.
Lebih dari itu, jika kondisi kelas tersebut dari hari ke hari, dari hari ke pekan, dari pekan ke bulan bukan hanya bertahan tetapi mengalami perbaikan dari berbagia sisi, terdapat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang bertambah, sehingga terlihat lebih rapi, lebih rindang, lebih asri, dengan kata lain kondisnya mengalami perubahan kearah lebih baik maka dapat dipastikan bahwa wali kelas tersebut mempunyai “Kepedulian yang tinggi”.
Kepedulian yg tinggi itu adalah karakter. Oleh karena itu walas yang mempunyai kepedulian tinggi dapat menjadi bukti bahwa karakter peduli dari walas tersebut sudah terbentuk dan tertanam di dalam jiwanya. Sosok walas seperti ini dapat dikatakan sebagai sosok “walas ideal” karena tidak hanya memerintah tetapi memberi contoh, membimbing dan menginspirasi siswa perwaliannya. Bukan hanya siswa perwaliannya yang terispirasi tetapi semua walas, semua guru, semua caraka, bahkan kepala sekolah seyogyanya terispirasi dengan Tingkat kepedulian yang tinggi dari walas tersebut. Dan jika ini dilakukan maka, sekolah tersebut menjadi sekolah berkarakter.
Saya menamakan karakter itu ibarat “Virus”. Maka, seyogyanya karakter baik(Virus yang baik) dapat menyebar menjadi contoh, teladan, dan inspirasi bagi siswa dan wali kelas lainnya. Jika hal ini terjadi maka saya meyakini bahwa perubahan akan berlangsung secara masif dan akhirnya karakter baik tersebut akan menyebar ke semua warga sekolah dan pada gilirannya sekolah tersebut menjadi sekolah berkarakter.
Di bawah ini hasil wawancara saya dengan beberapa wali kelas terkait dengan bagaimana seorang guru memaknai tugas tambahan berupa wali kelas yang diamanahkan kepada mereka:
| Assalaamualaikum, Hampir 15 tahun bertugas, selama itulah saya diamanahi menjadi wali kelas dari berbagai tingkat siswa yang menjadi perwalian saya. Rentang waktu yang selama itu seharusnya menjadikan saya figur wali kelas yang mumpuni dan berpengalaman. Namun durasi waktu tidak lantas menjadi tolak ukur kwalitas saya sebagai wali kelas. Kita tahu bahwa yang kita hadapi adalah anak-anak sebagai subyek aktif yang selalu dinamis, memiliki karakter dan keunikan sendiri2. Untuk itu peran dan kompetensi wali kelas selalu diuji/ditantang berdasarkan karakter siswa perwaliannya, peran orang tua, dan lingkungannya. Wali kelas merupakan tugas tambahan selain tugas utama saya sebagai pendidik. Tugas wali kelas sejatinya tidak kalah kompleks dari tugas mendidik dan mengajar sebagai tugas utama guru karena ranah tugas wali kelas tidak hanya menyentuh siswa secara langsung namun juga sebagai perpanjangan tangan program dan kebijakan sekolah pada orang tua siswa. Layaknya tugas wali, maka wali kelas bertanggung jawab mengurus, membina, dan menjamin urusan seluruh siswa dalam kelasnya yang berkaitan dengan persoalan sekolah. Tugas wali kelas tidak hanya sebatas memanajemen kelasnya namun lebih dari itu juga melaksanakan tugas pelayanan yang seringnya tidak terikat oleh jam kerja. Untuk itulah diperlukan hati lapang dan kerja ikhlas dalam menghadapi problematika perwalian yang tidak bisa diprediksi. Berbagai hal persoalan bisa saja ditemui. Beruntung jika wali kelas didukung oleh peran orang tua yang konsen terhadap anak2 mereka karena ini penting. Sebagaimana istilah menyatakan bahwa “guru adalah petani peradaban” nah ketika guru telah menyemai, menanam, dan menjaga baik-baik tanaman/siswa dengan berbagai bentuk didikan yg baik maka tanpa peran orang tua di rumah yg memupuk menyiramnya maka tidak akan maksimal hasilnya. Tugas wali kelas meskipun kompleks namun memberikan arti tak ternilai. Saat mereka telah terikat hatinya maka tak jarang saatnya pergantian wali kelas mereka dengan tulus bertanya, “Ibu nanti masih jadi wali kelas kami, kan?” Selalu ada tawa, ada sayang, ada tangis, dan gebrakan baru anak2 itu, anak-anak dengan perhatian khusus/bikin pusing yang nyatanya paling besar pedulinya. Itulah perubahan positif yg setidaknya membanggakan seorang wali kelas. Terasa lambat namun yakin anak2 tersebut akan sampai pada perubahannya. Itulah yang menjadi penyemangat saya untuk selalu mengambil peran terbaik wali kelas versi saya. Wassalaamualaikum Yuni Windari ~ Walas 7I 2025/2026 |
| Sri Depi Ruswiyani, S.Pd. Wali kelas itu memiliki peran sebagai wakil orang tua di dalam kelas. Sehingga dapat mengetahui data seluruh siswa (identitas/nilai akademik), masalah yang dihadapi siswa, baik masalah akademik, sosial, maupun emosional. Serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi masalah siswa, termasuk memberikan bimbingan dan konseling. Selain itu juga walikelas memberikan motivasi belajar dan cara menjaga kebersihan serta ketertiban kelas. Sehingga tercipta suasana kekeluargaan di kelas karena semua siswa bersaudara tanpa melihat adanya perbedaan. |
| Muty Handayani, S,Pd Sebagai wali kelas di SMP, saya menjalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab dan kepedulian. Saya berusaha dekat dengan siswa dan membimbing mereka agar disiplin, religius, dan percaya diri. Saya ingin mereka tumbuh menjadi siswa yang berani tampil, berprestasi, dan punya karakter yang baik. Saya juga menjaga komunikasi dengan guru dan orang tua agar perkembangan siswa terpantau dengan baik. Bagi saya, menjadi wali kelas bukan hanya soal administrasi, tetapi juga tentang membimbing siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. |
| Rofikhoh, S.S Saya memaknai tugas sebagai walas yaitu harus malu membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk siswa perwaliannya. Bukan hanya sekadar tanggung jawab tetapi juga harus membentuk karakter siswanya. |
Sebagai seorang guru dan juga sebagai kepala sekolah saya sangat memberikan apresiasi kepada walas dengan kepedulian yang tinggi, atau tenaga pendidik dan kependidikan lainnya dengan karakter kepedulian tinggi. Saya juga sangat nyaman, perasaan menjadi tenang, dan betah jika melihat kelas tertata rapi, terjaga kebersihannya, rindang dan asri karena terlihat bunga-bunga bergelantungan, berjejer pot-pot bunga-bunga yang indah diteras dan di taman kelas. Dengan kondisi seperti itu tentu siswa juga merasa nyaman, tentram, betah belajar, dan betah berlama-lama di kelas.
Dari kondisi kelas tersebut saya banyak belajar dari wali kelas tentang manajemen yang dilakukan oleh walas tersebut, saya juga belajar tentang kepedulian yang tinggi dari walas tersebut, sekaligus belajar pula cara kerja dengan kerja keras, kerja ikhlas, dan juga kerja tuntas.
Dari kepedulian walas tersebut pula saya terinspirasi untuk dapat menerapkan cara berkenan walas tersebut bekerja dengan keras, ikhlas, dan tuntas agar visi sekolah yang sudah ditancapkan bersama dapat terwujud. Pakndol
